Google

Senin, 31 Desember 2007

e-Learning Berbasis 3G

Implementasi Corporate Social Responsibility Melalui e-Learning Berbasis 3G

(Oleh : Mansur Hidayat, S.Kom)

Corporate Social Responsibility atau lebih terkenal dengan CSR adalah istilah populer yang digunakan untuk mewakili sebuah program bakti sosial sebagai bentuk kontribusi positif dari perusahaan kepada masyarakat. Ada beberapa contoh program CSR yang telah dilakukan beberapa perusahaan ternama di Indonesia belakangan ini. Diantaranya PT Indosat berkerjasama dengan UNDP meluncurkan voucher Mentari Limited Editions bertemakan Voucher Mentari Edisi Anak Indonesia, sebagai bentuk dukungan indosat dalam program Millennium Development Goals (MDGs) yang salah satunya berkonsentrasi pada pembangunan bidang pendidikan. Selain itu PT Indosat juga menyelenggarakan Program Peningkatan Kompetensi Guru IPA dan Matematika bekerja sama dengan Universitas Andalas, Universitas Bung Hatta dan Universitas Negeri Padang, Sumatera Barat. Kemudian perusahaan lain pelaksana CSR adalah PT. Sampoerna yang membagikan banyak beasiswa pendidikan melalui Sampoerna Foundations, selain itu juga ada renovasi sekolah yang dilakukan oleh BNI dan masih banyak lagi.

Selain PT Indosat, operator telekomunikasi lainya yang identik dengan teknologi tinggi, kreatifitas dan inovasi serta ketersediaan rupiah yang tidak sedikit juga tidak ketinggalan memeriahkan ajang pengabdian kepada masyarakat lewat CSR. Diantaranya PT Telkom yang secara aktif melakukan usaha pemerataan informasi dan penetrasi jaringan internet di sekolah-sekolah yang mempunyai kondisi geografis dan infrastruktur tertinggal. Kerjasama Mobile-8 dengan berbagai institusi pendidikan di Tanah Air, salah satunya adalah akses gratis ke portal dikmenjur bagi seluruh sekolah menengah kejuruan di Pulau Jawa dan akses portal gratis bagi mahasiswa Universitas Jember dalam menunjang program belajar dan mengajar di lingkungan universitas tersebut.

Berbeda dengan operator lainya yang lebih terfokus pada sektor-sektor tertentu, Exelcomindo melakukan program tanggung jawab sosial perusahaan kepada masyarakat secara lebih general dengan target seluruh lapisan masyarakat dari berbagai macam latar belakang. Misalnya seminar Indonesia berprestasi yang dilaksanakan Xlcare sebagai wujud dukungan terhadap dunia pendidikan di Indonesia dan peningkatan kualitas anak-anak untuk masa depan yang lebih baik. Senimar ini menyuguhkan pengalaman inspiratif dari tim TOFI yang telah disponsori oleh XL dibawah asuhan Prof DR Yohanes Surya Phd, yang berhasil mengharumkan nama Indonesia ditengah bencana yang banyak terjadi, Luar biasa lagi adalah hasil olimpiade Fisika Internasional 37 di Singapura pada Juli 2006. Indonesia merebut juara dunia dengan meraih gelar The Absolute Winner dan 4 emas serta 1 perak. Indonesia menyisihkan lebih dari 83 negara, suatu olimpiade fisika terbesar di dunia. Selain itu hadir juga Prof. Ratna Megawangi Phd, sebagai pendiri Indonesia Heritage Foundation yaitu membangun TK Alternatif Semai Benih Bangsa Berkarakter untuk anak tidak mampu. Kegiatan sosial lain yang telah dilaksanakan XL adalah Bali Re-Found, Pulihkan Jogja Kita dan masih banyak lagi.

Petanyaanya sekarang, apakah Corporate Social Responsibility yang telah dilakukan khususnya oleh Telco Industry telah mencapai titik optimal atau hanya sekedar titik awal dari suatu kontribusi besar bagi kemajuan bangsa Indonesia? Pertanyaan ini hendaknya menjadi pekerjaan rumah bagi para pelaku industri ini. Hanya komitmen dan niat yang kuat yang akan melahirkan kebijakan-kebijakan internal perusahaan yang diharapkan mampu memberi kontribusi positif bagi kemajuan bangsa. Banyak hal yang dapat dilakukan untuk memberi manfaat lebih bagi masyarakat dengan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki oleh pelaku industri telekomunikasi. Kiranya tidak berlebihan jika sektor industri ini di tuntut untuk berbuat lebih dan selalu proaktif dalam meningkatkan volume dan variasi program CSR. Karena operator telekomunikasi di Indonesia mempunyai sumber daya melimpah dengan total pendapatan mencapai sekitar Rp 50 triliun per tahun, yang berasal dari berbagai layanan seperti jasa internet, fixed phone, mobile phone, multimedia dan lain-lain. Salah satu real actions yang dapat dilaksanakan operator telekomunikasi dalam waktu dekat ini dalam mengimplementasikan CSR adalah dengan memanfaatkan 3G sebagai sebuah teknologi potensial yang dapat di explorasi lebih dalam demi kemajuan bangsa oleh operator-operator pemegang lisensi.


Hadirnya 3G di Indonesia.

Hadirnya teknologi selular generasi ketiga (3G) third generation banyak menyedot perhatian sebagian besar masyarakat. Banyak yang menantikan, namun banyak juga yang masa bodoh. Mereka yang antusias menantikan kehadiran teknologi ini meyakini 3G mampu menyembuhkan sempitnya pembuluh data yang diusung oleh teknologi generasi sebelumnya. Tidak salah memang jika sebagian masyarakat penggila teknologi berekspektasi tinggi terhadap 3G, karena teknologi ini memungkinkan penggunanya untuk menikmati pita lebar yang diklaim memiliki kecepatan jauh lebih tinggi dibanding generasi 2G dan 2.5G. Generasi ke-2 atau 2G yang hanya mampu menyajikan kecepatan 9.6 Kbps menggunakan WAP (Wireless Applications Protocol) dan 115 Kbps disediakan oleh GPRS (General Packet Radio Service) yang berasal dari generasi 2.5G. Kecepatan data yang lebih tinggi dari kedua teknologi diatas, yaitu sebesar 384 Kbps sempat dihadirkan oleh EDGE (Enhanced Data Rate GSM Evolutions) sebagai midle generations yang menjembatani evolusi generasi 2G menuju 3G. Adapun 3G sendiri secara teoritis mampu memanjakan penggunanya dengan menyajikan kecepatan transfer data hingga lebih dari 2 Mbps, dengan kecepatan sebesar itu memungkinkan pelanggan seluler untuk menikmati berbagai layanan transfer data berkecepatan tinggi seperti video calling, teleconfrence, video streaming, mobile TV dan tentu saja akses internet berkecepatan tinggi untuk keperluan download dan browsing.

Pada Februari gelaran tender pun digelar oleh pemerintah untuk menentukan operator mana saja yang berhak memperoleh selembar kertas lisensi dari sebuah blok pita frekuensi bernama 3G. Akhirnya terpilihlah tiga operator pemegang lisensi 3G, yaitu Telkomsel dengan penawaran Rp 218 miliar, XL Rp 188 miliar dan terakhir Indosat dengan mengeluarkan kocek sebesar Rp 160 miliar. Jumlah tersebut hanyalah biaya untuk kepentingan memenangkan tender, belum jumlah lebih besar yang harus dikeluarkan untuk investasi pada teknologi ini. XL mengklaim telah berinvestasi sekitar USD 50-100 juta untuk layanan 3G, Telkomsel menganggarkan dana Rp 3 triliun untuk memasang 3000 Base Tranceiver Stations (BTS) dalam kurun waktu 3 tahun kedepan dan akan terus ditambah seiring kebutuhan pasar.

Investasi mahal ini adalah salah satu faktor yang membuat sebagian kalangan merasa pesimis akan masa depan 3G di Indonesia. Karena logikanya investasi yang besar selalu berakibat tingginya tarif dari layanan itu sendiri, apalagi kondisi tersebut didukung oleh tekanan untuk mengembalikan modal investasi yang dikeluarkan dalam batasan waktu. Mengapa? Karena dalam industri ini teknologi selalu berkembang begitu cepatnya, belum memulai untuk mendulang rupiah di negeri ini 3G sudah dibayang-bayangi kehadiran WIMAX atau lebih populer dengan Fourth Generations Technologhy atau 4G, teknologi Broadband Wireless Access (BWA) yang diklaim paling efektif dan efisien. WIMAX dapat melakukan transfer data dengan kecepatan hingga 70Mbps dalam radius jarak 30-50 km dari base stations dalam menyediakan akses broadband bagi pelanggan. Yang cukup membuat 3G gigit jari adalah biaya investasi WIMAX (CAPEX) hanya 1:300 (satu berbanding tigaratus) dibanding biaya investasi 3G. Investasi yang lebih murah ini otomatis akan memberikan tarif yang lebih murah pula bagi layanan WIMAX dibanding 3G nantinya.

Para pengamat memperkirakan dalam 2-3 tahun mendatang orang akan mencoba kehebatan 4G. Dan dalam kurun waktu itulah para operator harus memutar otak untuk mengembalikan investasi yang telah dikeluarkan dan tentu saja mencetak keuntungan. Jangan sampai modal investasi di 3G belum kembali, operator harus berinvestasi lagi di 4G.

Selain masalah investasi hal-hal yang menyuburkan rasa pesimistis akan masa depan 3G di Indonesia oleh berbagai kalangan diantaranya adalah mahalnya Handset yang compatible dengan layanan 3G/UMTS bagi sebagian besar masyarakat, coverage area yang masih terbatas, kurang jelasnya kompatibilitas dalam interkoneksi, dan budaya dari sebagian besar masyarakat sendiri yang sudah merasa cukup dengan layanan voice dan SMS. Sebagai ilustrasi, saat ini pengguna telepon seluler yang hanya menggunakan layanan voice dan SMS saja jumlahnya mencapai 99 %. Dengan pembagian peran kontribusi bagi pendapatan para operator seluler sekitar 70-85 % untuk voice dan 10-25 % untuk SMS, sedangkan yang memanfaatkan layanan data serta content masih berada di bawah angka 5 %.

Lalu apa yang harus dilakukan dengan kondisi pasar seperti sekarang ini? Tentu saja kreatifitas dalam memberikan variasi layanan, intensitas program-program sosialisasi dan edukasi masyarakat ditingkatkan, coverage area yang lebih luas, kualitas layanan yang memuaskan dan tarif yang terjangkau bagi target market di Indonesia yang akan menentukan kehadiran 3G membawa kesuksesan bagi operator penyelenggara atau tidak.

Berikutnya yang perlu difikirkan lebih dalam oleh para operator pemegang lisensi 3G adalah apakah manfaat lebih yang akan didapatkan oleh masyarakat maupun operator dengan digelarnya teknologi ini? Sebenarnya disamping hanya sebagai sebuah komoditi bisnis, 3G mempunyai potensi yang besar untuk dikembangkan dalam kegiatan-kegiatan sosial yang termasuk dalam Corporate Social Responsibility. Karena selain untuk kebutuhan personal, network 3G sebenarnya dapat juga digunakan untuk mempercepat pemerataan informasi serta akses internet sampai ke pelosok-pelosok Tanah Air karena pada dasarnya network ini dapat juga dijadikan network access ke jaringan internet. Masih banyak sekolah serta kampus perguruan tinggi yang belum memadai kualitas akses internetnya. Untuk itu operator 3G juga dapat memberikan kontribusi dalam mengurangi kesenjangan digital antara sekolah dan kampus di kota-kota besar dengan yang sekolah dan kampus yang berada di daerah.

e-Learning Berbasis 3G.

Salah satu konsep yang ditawarkan dalam pemanfaatan 3G bagi kegiatan sosial adalah pengembangan sistim pendidikan berbasis elektronika yang memungkinkan terjadinya proses belajar mengajar secara interaktif tanpa batasan geografis dengan menggunakan sebuah portal yang berisi berbagai referensi ilmu pengetahuan atau lebih dikenal dengan istilah e-Learning. Sistem belajar mengajar ini tidak hanya berkaitan dengan institusi pendidikan namun juga dapat dimanfaatkan oleh kalangan industri

Beberapa perusahaan besar yang ada di Amerika seperti Cisco System, Hewlet Packard, IBM, Oracle memanfaatkan sistem ini sebagai sarana promosi yang sangat efektif dan murah disamping usaha untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia yang menguasai produk yang dihasilkan oleh perusahaan tersebut. Tidak hanya Amerika yang menerapkan sistem ini, beberapa negara Eropa seperti Swedia pun telah cukup berhasil dengan sistem e-Learning ini.

Lalu bagaimana dengan di Indonesia, apa yang dapat diperoleh masyarakat saat ini dari ketersediaan teknologi, infrastruktur dan dana yang dimiliki oleh para pelaku industri telekomunikasi. Seperti diungkapkan diatas bahwa pada dasarnya network 3G dapat juga dijadikan network access ke jaringan internet yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Penerapan teknologi internet di bidang pendidikan dan pelatihan sangat dibutuhkan dalam rangka meningkatkan dan memeratakan mutu pendidikan di Indonesia yang wilayahnya tersebar dan terpisah secara geografis. Sehingga diperlukan solusi yang tepat dan cepat dalam mengatasi berbagai masalah yang berkaitan dengan mutu pendidikan sekarang. Dengan adanya aplikasi pendidikan jarak jauh yang berbasiskan internet, maka ketergantungan akan jarak dan waktu yang diperlukan untuk pelaksanaan pendidikan dan latihan akan dapat diatasi, karena semua yang diperlukan akan dapat disediakan secara online sehingga dapat diakses kapan saja. Begitupun manfaat yang akan dirasakan oleh dunia industri, terutama perusahaan-perusahaan besar dimana cabang-cabang perusahaan banyak tersebar di dalam dan luar negeri. Dengan menerapkan e-Learning perusahaan dapat menghemat biaya akomodasi bagi karyawan peserta training dan pelatihan, karena dapat dilaksanakan dari mana saja dan kapan saja secara interaktif dan real time.


Media Internet.

WWW (World Wide Web) merupakan salah satu tekonologi berbasis HTTP (HyperText Tranfer Protocol) yang telah berkembang sejak lama dan yang paling umum dipakai dalam pelaksanaan pendidikan dan latihan jarak jauh (e-Learning). Teknologi ini memungkinkan dibuatnya sebuah website yang berfungsi sebagai pusat kegiatan belajar-mengajar dan warehouse dari semua bahan-bahan pembelajaran. Secara umum aplikasi di internet terbagi menjadi 2 macam, yaitu :

  1. Synchronous System : Aplikasi yang berjalan secara waktu nyata dimana seluruh pemakai bisa berkomunikasi pada waktu yang sama, contohnya: chatting, Video Conference, dsb.

  2. Asynchronous System : Aplikasi yang tidak bergantung pada waktu dimana seluruh pemakai bisa mengakses ke sistem dan melakukan komunikasi antar mereka disesuaikan dengan waktunya masing-masing, contohnya: BBS, e-mail, dsb.

Untuk mencapai efektifitas maximal sistem pendukung e-Learning berbasi web dengan akses internet menggunakan 3G, idealnya dilakukan penggabungan antara sistem synchronous atau asynchronous, karena pada dasarnya masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya. Dengan hadirnya 3G sebagai sebuah teknologi berkemampuan transer data dalam kecepatan tinggi akan sangat memungkinkan penerapan teknologi real time multimedia seperti video conference, video phone untuk kepentingan proses belajar-mengajar melalui e-Learning.

Nilai tambah lain dalam realisasi e-Leraning berbasis 3G adalah keleluasaan bergerak bagi para siswa maupun karyawan dalam men-download content dari Internet secara cepat, kapan saja dan dimana saja. Hal itu semakin dipermudah dengan tersedianya handset yang dilengkapi dengan fasilitas aplikasi mobile office dipasaran.

Pada akhirnya manfaat besar yang diharapkan dapat diperoleh adalah pemerataan informasi bagi segenap elemen bangsa dengan tersedianya infrastruktur yang memadai, sehingga program pencerdasan bangsa akan lebih cepat terealisasi. Tentu saja jika para pemegang dan pemilik sumber daya potensial seperti operator telekomunikasi misalnya mau mengulurkan tangan dan membantu bangsa ini menuju ke kondisi yang lebih maju. Seperti di ceritakan diatas, langkah yang diambil oleh Mobile-8 sebagai operator CDMA baru, misalnya, walaupun lisensinya bukan 3G, mungkin patut mendapat perhatian. Karena perusahaan ini secara aktif menjawab kebutuhan yang diharapkan oleh masyarakat. Langkah ini juga sudah sepatutnya diikuti oleh operator lain yang memang memiliki sumber daya potensial dalam wujud pengabdianya kepada masyarakat melalui Corporate Social Responsibility.

Pelaksanaan CSR akan sangat menguntungkan untuk dilakukan oleh peusahaan-perusahaan besar karena selalu membawa dua kebaikan, terjadinya simbiosis mutualisme yang saling memberi insentif bagi kedua belah pihak. Insentif bagi masyarakat, tentu saja dampak positif dari CSR pada segala bidang, sedangkan bagi perusahaan sendiri kredibilitas dan kepercayaan masyarakat akan semakin besar dan bukan tidak mungkin akan berpengarus positif bagi kemajuan perusahaan. Selain itu menurut David Vogel dalam buku karanganya yang berjudul The Market for Virtue, The Potentials ans Limits of Corporate Social Responsibility mengatakan bahwa bagi perusahaan transnasional CSR sangat mengungtungkan untuk menjaga image dan kredibilitas dari serangan kampanye-kampanye negatif para aktivis.

Mengambil langkah-langkah strategis, jelas, berani dan bermanfaat langsung bagi masyarakat pada awal pengenalan layanan ini hendaknya menjadi pertimbangan utama oleh operator penyedia layanan 3G. Jika tidak, layanan 3G hanya akan menjadi fitur yang tidak termanfaatkan dan hanya menjadi bahan diskusi para pakar serta praktisi telekomunikasi tanpa jelas wujud dan bentuknya di tengah-tengah masyarakat. Tanpa kreatifitas dan inovasi tinggi, operator pemegang lisensi tidak akan mampu berharap banyak dari keberhasilan 3G. dan bukan tidak mungkin karena tarif yang terlalu mahal ditambah dengan coverage area terbatas dan kualitas yang kurang memuaskan, masyarakat akan bersabar menunggu kehadiran 4G yang sebentar lagi akan diperlihatkan kemampuanya oleh Samsung dalam ajang Samsung 4G forum di pulau Jeju Korea.

Source: http://www.al-mansur.info


Tidak ada komentar: