Google

Rabu, 21 November 2007

The Champion of Central Java Tourism Ambasador 2006

logo SUARA MERDEKA

Line
Minggu, 03 Desember 2006 NASIONAL
Line

Hendy dan Vina Duta Wisata Jateng 2006

CUKUP berat memang menyandang gelar duta wisata regional, apalagi berlevel nasional. Hanya mengandalkan talenta, keahlian, kecantikan, dan ketampanan tentu tidaklah cukup. Setidaknya, mesti dibarengi dengan penguasaan ilmu pengetahuan, terutama soal kepariwisataan dan bahasa asing.

Dalam pemilihan Mas dan Mbak Duta Wisata Jateng 2006 yang dilangsungkan di Krakatau Grand Ball Room Hotel Horison Semarang, Jumat (1/12) malam, hal tersebut terbukti. Pada acara yang dihadiri Wakil Gubernur Ali Mufiz dan Kepala Dinas Pariwisata Jateng Ir Sri Uritni Aminarsih itu, dari 35 pasang finalis, beberapa di antaranya kurang memahami fungsi dan tugas seorang duta wisata.

Misalnya saat dewan juri yang diketahui Prof Dr Retmono MSc mengajukan pertanyaan. "Apa yang kamu lakukan untuk memulihkan rasa trauma anak-anak korban gempa?" Dengan panjang lebar seorang finalis mengatakan akan mempromosikan objek wisata daerah yang terkena gempa. Dengan demikian, kata dia, wisatawan percaya bahwa daerah tersebut aman. Lho, bukankah jawaban yang diberikan tidak nyambung?

Bermaksud memamerkan penguasaan bahasa Jawa, finalis yang kebanyakan di bawah 25 tahun itu sebagian menggunakan bahasa Jawa Krama saat memperkenalkan diri. Namun ketika menjawab pertanyaan tiba-tiba berganti bahasa Indonesia.

Hasil lengkap pemilihan Duta Wisata Jateng, juara pertama Hendy Pratama, S.pd (Kabupaten Semarang/Vina Ayunda Prasasti (Surakarta), juara kedua Zulfikar Adi Kusuma (Demak)/Diyan Nur Fadhilah (Jepara), juara ketiga Mansur Hidayat, S.Kom (Jepara)/Astrid Widayani (Kota Semarang).

Sementara itu juara Favorit diraih Aditya Angger Wibowo (Kudus) dan Astrid Widayani (Kota Semarang). Juara Intelegensia Hendy Pratama (Kabupaten Semarang) dan Astrid Widayani (Kota Semarang), Busana terbaik, Hendy Pratama (Kabupaten Semarang)/Dian Ayuningtyas (Boyolali). Gelar Persahabatan diraih Brama Sabata (Wonosobo) dan Gratikasari (Banyumas), sedangkan Hendy Pratama (Kabupaten Semarang) dan Iin Agustin (Pemalang) dikukuhkan sebagai juara Kepribadian.

Juara Harapan satu Rorie Asyari (Surakarta)/Na'ima Mastukha (Kendal), kedua Tri Ari Wibowo (Kota Semarang)/Theresia Ardiarini Yuwani (Temanggung), dan ketiga Aditya Angger Wibowo (Kudus)/Puji Rahayu Ningtyas (Salatiga). (Fahmi Z Mardizansyah-Suara Merdeka Cybernews)

Rabu, 07 November 2007

Fasilitas VoA Mendorong Meningkatknya Kunjungan Turis Rusia ke Indonesia


Pemberian fasilitas visa saat kunjungan (Visa on Arrival/VoA) bagi wisatawan Rusia yang berkunjungan ke Indonesia telah mendorong meningkatnya arus kunjungan turis dari negeri itu ke Indonesia, yang tahun 2006 melonjak tajam hingga 99,06% mencapai 34.116 wisatawan.

"Dengan pemberian fasilitas VoA minat wisatawan Rusia berkunjung ke Indonesia meningkat," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara, Kamis (6/9), usai menyaksikan penandatanganan kerjasama kebudayaan, pariwisata dan cinematografi antara Indonesia-Rusia.

Nota program kerja sama kebudayaan kedua negara ditandatangani Sekjen Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) DR.Sapta Nirwandar dan Duta Besar Rusia untuk Indonesia Alexander Ivanov disaksikan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Hadir dalam acara itu sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu di antaranya Menbudpar Jero Wacik.

Presiden mengatakan, wisatawan Rusia selama berkunjung di Indonesia memiliki lama tinggal cukup panjang. "Wisatawan Rusia sangat menyukai Bali, masa kunjungannya juga termasuk lama. Bahkan saat ini ada restoran yang berciri khas Rusia," kata Presiden.

Sementara itu Sekjen Depbudpar DR. Sapta Nirwandar mengatakan, di masa datang akan banyak pertukaran kerjasama khususnya di bidang kebudayaan antara Indonesia dan Rusia yang diharapkan juga mendorong meningkatkanya kunjungan wisatawan kedua negara. "Kedua negara memiliki kebudayaan yang cukup tua dan lokasi-lokasi kebudayaan yang menarik dikunjungi," katanya.

Program kerja sama kebudayaan 2008-2010 kedua negara antara lain meliputi penyelenggaraan Hari Kebudayaan Rusia di Indonesia dan Hari Kebudayaan Indonesia di Rusia, kerja sama bidang pertunjukan musik dan tari serta film untuk festival film. Juga kerja sama dalam pemeran foto, pertukaran kunjungan kelompok seni dan teater, pertukaran kunjungan peneliti dan ahli sinematografi serta bidang lain yang terkait dengan studi kebudayaan.

Indonesia dan Rusia sebelumnya telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) di bidang pariwisata pada 1 Desember 2006 di Moskow. Dengan adanya MoU tersebut kunjungan wisatawan antar kedua negara semakin meningkat.

Tercatat tahun 2004 jumlah kunjungan wisman asal Rusia ke Indonesia mencapai 18.770 orang atau menempati peringkat 14 dari total wisman Amerika dan Eropa yang berkunjungan ke Indonesia. Tahun 2005 kunjungan turis Rusia turun 8,7% menjadi 17.138 wisatawan. Tahun 2006 kunjungan turis Rusia melonjak hingga 99,06% mencapai 34.116 wisatawan sehingga peringkatnya meningkat ke posisi 9 dari keseluruhan wisatawan Amerika dan Eropa yang berkunjung ke Indonesia. (www.budpar.go.id)



The 22nd ASEANTA Awards for Excellence 2008

Organisasi pariwisata ASEAN atau ASEAN Travel Association (ASEANTA) untuk kedua puluh dua kalinya akan memberikan ASEANTA Award for Excellence 2008 kepada individu atau organisasi yang dinilai telah memberikan kontribusi terhadap pengembangan, pertumbuhan, dan promosi kebudayaan dan pariwisata di kawasan ASEAN.

Menurut panitia penyelenggara, ada sembilan kategori yang dikompetisikan dan akan dipilih yang terbaik (the best) untuk kategori: tourism photo, tour package, airline programme, concervation effort, tourist attraction, travel article, marketing & promotions, cultural conservation effort, dan poster. Penghargaan itu nantinya akan disampaikan pada event Asean Tourism Forum (ATF) di Bangkok, Thailand pada Januari 2008 mendatang.

Menurut Direktur Pengembangan Pasar, Ditjen Pemasaran Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) Syamsul Lussa, yang juga sekaligus merupakan Alternate Board Member ASEANTA, penghargaan yang diberikan ASEANTA sejak 1987 atau selama 21 tahun terakhir banyak dimenangkan oleh beberapa negara tertentu seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand untuk semua katagori yang dinilai sedangkan Indonesia yang notabene memiliki keunggulan yang begitu banyak hanya memenangkan tujuh awards untuk empat katagori. Hal ini disebabkan antara lain karena kurangnya masukan (entries) yang diusulkan atau dinominasikan oleh Indonesia ke pihak Panitia atau Tim Juri ASEANTA Awards for Excellence.

"Dengan kondisi tersebut di atas dan memandang bahwa berbagai produk unggulan pariwisata Indonesia sangat layak untuk dikompetisikan di kawasan ASEAN, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata saat ini telah menghimbau semua industri melalui asosiasi terkati agar dapat mengerahkan seluruh anggota/perusahaan/individu untuk mengikuti kompetisi tersebut dan memasukan nominasinya (entries) sesegera mungkin sebelum batas akhir penerimaan nominasi tanggal 30 November 2007 oleh tim juri ASEANTA, sehingga dapat memenangkan lebih banyak penghargaan (awards) yang pada gilirannya akan memperkuat citra Indonesia sebagai destinasi yang menarik untuk dikunjungi," kata Syamsul Lussa dalam keterangannya di Gedung Sapta Pesona Jakarta, Rabu (31/10).

Organisasi ASEANTA merupakan organisasi pariwisata terbesar untuk kawasan ASEAN, yang saat ini anggotanya terdiri dari Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, serta Vietnam. Keanggotaan dalam ASEANTA ini selain dari unsur pemerintah juga dunia swasta yakni pelaku industri yang tergabung dalam asosiasi pariwisata.

Anggota ASEANTA dari Indonesia, selain Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) juga asosiasi pariwisata-- Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) dan Asosiasi Perusahaan Biro Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA).